BeritaKabupaten SBBProvinsi Maluku

Peti Jenazah Dipikul 4 Kilometer, Potret Pilu Warga Pegunungan Taniwel yang Masih Terisolasi

105
×

Peti Jenazah Dipikul 4 Kilometer, Potret Pilu Warga Pegunungan Taniwel yang Masih Terisolasi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Nusaelaknews.com | SBB, Maluku – Duka mendalam kembali menyelimuti masyarakat di daerah pegunungan Seram Bagian Barat. Di balik kabut tebal yang menyelimuti pegunungan Taniwel, tersimpan potret memilukan tentang betapa mahalnya arti sebuah akses jalan bagi warga di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).

Hari ini, Minggu (21/6/2026), duka berbalut rintihan fisik harus dirasakan oleh warga Desa Lohia Sapalewa, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Mereka harus bahu-membahu memikul peti jenazah almarhumah Ibu Balandina Tibalimeten (70 tahun) sejauh lebih dari 4 kilometer demi mengantarkannya ke peristirahat terakhir.

Kisah pilu ini bermula ketika Nenek Balandina mengalami sakit keras sejak sebulan lalu, tepatnya pada 18 Mei 2026. Saat itu, beliau dievakuasi dari kampung halaman untuk mendapatkan perawatan medis. Namun takdir berkata lain. Pada pagi hari tadi, sekitar pukul 05.00 WIT, Nenek Balandina mengembuskan napas terakhirnya di rumah duka, Desa Taniwel.

Penderitaan tidak berhenti sampai di situ. Sore harinya, sekitar pukul 18.00 WIT, air mata keluarga kembali tumpah saat peti jenazah almarhumah harus dinaikkan ke atas tandu darurat.

Mobil ambulans atau kendaraan roda empat sama sekali tidak bisa menembus Desa Lohia Sapalewa. Jalanan yang rusak parah dan terisolasi memaksa warga bertindak sebagai “kendaraan” bagi jenazah Nenek Balandina.

Secara bergantian, tua dan muda, menyandarkan kayu tandu di pundak mereka. Di bawah temaram langit sore yang mulai gelap, mereka berjalan kaki melintasi medan pegunungan yang terjal sejauh 4 kilometer lebih agar jenazah bisa disemayamkan di rumah utama dan dimakamkan secara layak keesokan harinya.

Bagi masyarakat pegunungan Taniwel, tragedi seperti ini bukanlah hal baru, melainkan “makanan” sehari-hari yang terpaksa mereka telan. Saat Sakit: Warga harus ditandu beramai-ramai menyusuri hutan dan bukit untuk mencapai fasilitas kesehatan.

Saat Meninggal: Jenazah mereka pun harus digotong dengan cara yang sama. Kebutuhan Pokok: Sembako dan keperluan hidup dipikul di atas punggung melewati jalur yang memperhatinkan.

Kepala Desa (Penjabat Negeri) Lohia Sapalewa, Thomas Soriale, tidak dapat menyembunyikan rasa sedih dan kecewanya saat memberikan keterangan. Dengan suara bergetar, ia mengungkapkan kondisi desanya yang seolah terlupakan oleh kemajuan zaman.\

“Kami hanya bisa pasrah dengan keadaan ini. Ketika ada warga beta yang sakit atau meninggal di rumah sakit, jalurnya harus seperti ini. Kami bersama masyarakat harus bahu-membahu memikul orang sakit, jenazah, bahkan kebutuhan pokok sehari-hari. Sampai saat ini, kami sangat tertinggal karena akses jalan,” ungkap Thomas penuh emosional.

Melalui momentum duka ini, Thomas Soriale mengetuk pintu hati para pemangku kebijakan, mulai dari tingkat daerah hingga pusat.

“Mudah-mudahan ada perhatian serius dari pemerintah. Siapa pun pemimpin yang duduk di Kabupaten SBB, Pemerintah Provinsi Maluku, hingga Pemerintah Pusat di Jakarta, tolong lihat kami masyarakat di Pegunungan Taniwel, salah satunya kami di Desa Lohia Sapalewa. Kondisi jalan kami sampai hari ini sangat memprihatinkan. Inilah hidup kami…”

Nenek Balandina kini telah pulang dengan tenang, namun pundak warga Lohia Sapalewa masih harus terus memikul beban isolasi geografi yang entah kapan akan berakhir. Masyarakat berharap, peti jenazah yang digotong hari ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah agar segera membuka mata dan membangun jalan yang layak bagi manusia-manusia di beranda depan Maluku. (red)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *