Nusaelaknews.com | SBB, Maluku – Garis Depan Ariate: Saat Konflik Berdarah Ariate dan Tanah Goyang Memanas, Seorang Bhabinkamtibmas Bertahan di Tengah Ancaman Bentrokan Demi Menjaga Warga Sipil, Mencegah Perang Kampung, serta Mengembalikan Harapan Perdamaian di Tengah Situasi yang Nyaris Tak Terkendali
Di tengah ketegangan pasca bentrokan antarwarga yang mengguncang wilayah Ariate dan Tanah Goyang, seorang anggota Bhabinkamtibmas Desa Ariate tetap memilih berdiri di garis depan demi menjaga situasi agar tidak berubah menjadi konflik yang lebih besar. Dalam kondisi serba terbatas, tanpa perlengkapan pengamanan memadai dan hanya bersama satu rekan anggota, ia berusaha menjalankan tugas negara sambil menghadapi ancaman terhadap keselamatan pribadi maupun keluarganya sendiri.
Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu dini hari, 30 Mei 2026 sekitar pukul 03.30 WIT. Saat itu Bhabinkamtibmas Desa Ariate bersama seorang rekannya tengah melakukan pengamanan di depan jalan raya sekitar Polsubsektor Laala, Dusun Siaputih. Pengamanan dilakukan menyusul insiden pembacokan dan pemukulan terhadap dua warga atau pemuda Desa Ariate yang memicu ketegangan di wilayah tersebut.
Di tengah situasi yang belum kondusif, anak laki-laki Bhabin yang masih berusia lima tahun datang ke lokasi dalam keadaan menangis karena ditinggalkan tidur sendirian di rumah. Namun demi membantu rekannya menjaga situasi keamanan, Bhabin tidak dapat meninggalkan lokasi pengamanan. Ia kemudian membawa anaknya untuk beristirahat di kedai miliknya yang berada tepat di depan Polsubsektor Laala.
Belum lama berselang, Bhabin menerima informasi dari istrinya bahwa seorang warga bernama Vino Kakihary mengalami luka bacok dan telah berada di PUSTU Ariate untuk mendapatkan penanganan medis. Mendengar kabar tersebut, Bhabin segera mengambil langkah-langkah kepolisian untuk mencegah situasi berkembang semakin buruk.
Langkah pertama yang dilakukan yakni menghubungi Babinsa Ariate, Sertu Adolfis Kakisina, guna membantu mengecek kondisi korban sekaligus membantu pengamanan di Desa Ariate. Selanjutnya, Bhabin mencoba menghubungi Kepala Desa Ariate Richard Kakisina, Sekretaris Desa, hingga pihak gereja setempat, namun komunikasi tidak berhasil dilakukan.
Menyadari situasi yang semakin rawan, Bhabin kemudian meminta rekannya yang sedang piket untuk segera menghubungi pimpinan agar bantuan pengamanan tambahan dapat segera dikirimkan. Saat itu mereka hanya berdua dan tidak dibekali perlengkapan pengamanan yang memadai untuk menghadapi potensi amukan massa.
Karena kondisi terlihat semakin tegang, Bhabin akhirnya membangunkan anaknya yang tertidur di dalam kedai untuk kemudian dititipkan kepada seorang anggota polisi lain di Dusun Siaputih. Setelah memastikan anaknya aman, ia kembali ke depan jalan raya bersama rekannya guna bersiaga mencegah kemungkinan aksi balasan dari pihak-pihak yang terlibat konflik.
Tak lama kemudian, Bhabin kembali dihubungi istrinya yang saat itu sedang membantu penanganan medis terhadap Vino Kakihary. Sang istri mengingatkan agar dirinya berhati-hati karena dikhawatirkan keluarga korban akan bergerak menuju lokasi tertentu. Mendengar peringatan tersebut, Bhabin memutuskan agar dirinya dan rekannya tidak berjaga di dalam pos, melainkan berada di depan jalan untuk memantau setiap pergerakan yang datang dari arah Ariate
Beberapa saat kemudian, terlihat sejumlah kendaraan roda dua melaju dengan kecepatan tinggi dari arah Dusun Siaputih. Bhabin bersama rekannya berusaha menghentikan rombongan tersebut, namun sebagian besar kendaraan tidak dapat dicegah karena dikhawatirkan justru memicu kecelakaan. Meski demikian, satu kendaraan roda dua berhasil dihentikan.
Saat mengetahui pengendara tersebut berasal dari Ariate, Bhabin langsung memberikan imbauan secara persuasif agar mereka tidak melakukan tindakan yang dapat memperbesar konflik. Ia meminta agar para pemuda kembali dan tidak melakukan aksi balasan yang dapat menyeret Dusun Siaputih menjadi sasaran konflik. Pengendara tersebut sempat mengiyakan imbauan yang diberikan sebelum kembali melaju ke arah Tanah Goyang.
Sekitar dua hingga tiga menit kemudian, motor tersebut kembali melintas dengan kecepatan tinggi sehingga tidak sempat lagi dihentikan ataupun dimintai keterangan. Bhabin sempat berpikir bahwa rombongan tersebut telah mengurungkan niat setelah mendengar imbauannya. Namun tidak lama berselang, suasana mendadak berubah mencekam setelah terdengar suara benturan keras menyerupai hantaman pada tiang listrik dalam jumlah banyak.
Merasa ada sesuatu yang terjadi, Bhabin segera menghubungi Babinsa Tanah Goyang, Serka T. Mine. Dari komunikasi tersebut diketahui bahwa rombongan warga Ariate disebut sempat bertemu dengan Kepala Dusun dan Sekretaris Dusun Tanah Goyang yang hendak menuju Polsubsektor Laala untuk melakukan koordinasi. Namun dalam pertemuan itu, Sekretaris Dusun Tanah Goyang diduga langsung menjadi korban pembacokan dan kemudian dilarikan ke puskesmas untuk mendapatkan pertolongan medis.
Situasi kemudian semakin tidak terkendali. Tidak lama setelah kejadian tersebut, Kepala Dusun bersama staf pemuda dan massa dari Tanah Goyang datang ke Polsubsektor Laala dengan jumlah besar sambil membawa senjata tajam. Massa melakukan aksi perusakan terhadap kantor polisi subsektor dan melontarkan berbagai intimidasi kepada anggota kepolisian yang berada di lokasi.
Dalam situasi penuh tekanan itu, Bhabin dan rekannya disebut mendapat ancaman akan dipanah dan dibacok. Bahkan sejumlah massa melakukan tindakan intimidatif secara langsung di hadapan petugas. Meski demikian, Bhabin tetap berusaha menenangkan massa dan meminta agar warga Siaputih yang tidak terlibat persoalan tidak ikut menjadi sasaran amarah.
Di tengah ketegangan tersebut, beberapa nama disebut paling aktif mendesak polisi agar segera menangkap pelaku pembacokan terhadap Sekretaris Dusun Tanah Goyang. Mereka antara lain Andi Papalia, Wahit, Fadly Bufakar, Jusmin Papalia, dan Ir Palisoa.
Bhabin terus meminta agar masyarakat menahan diri dan mempercayakan proses penegakan hukum kepada kepolisian. Ia juga memohon kepada Kepala Dusun Tanah Goyang agar membantu menenangkan warga dan mencegah aksi brutal yang berpotensi memicu konflik lebih luas antarwilayah.
Kepala Dusun Tanah Goyang saat itu disebut memberikan jaminan bahwa warga Siaputih tidak akan menjadi sasaran, selama pelaku pembacokan segera ditangkap. Namun saat Bhabin bergerak menuju arah Ariate untuk melakukan koordinasi lanjutan, ia melihat kembali ke arah Polsubsektor Laala dan mendapati aksi perusakan serta pembakaran terhadap kedai miliknya.
Bhabin mengaku melihat seseorang yang dikenalnya, yakni Ir Palisoa, menggunakan celana pendek hitam dan menutupi wajah dengan pakaian hitam saat melakukan aksi perusakan dan pembakaran bersama sejumlah massa. Peristiwa tersebut disebut turut disaksikan oleh Kepala Pemuda Dusun Tanah Goyang, Sardi Loilatu, serta anggota kepolisian lain yang saat itu berusaha mencegah tindakan anarkis.
Meski kedai miliknya dibakar dan dirinya mendapat intimidasi langsung dari massa, Bhabin tetap memilih menjalankan tugas kepolisian secara profesional. Ia terus bergerak menuju Desa Ariate untuk melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat dan keluarga terkait guna mencegah konflik susulan yang lebih besar.
Upaya pendekatan persuasif itu akhirnya membuahkan hasil. Pada sekitar pukul 11.00 WIT, Bhabin berhasil mengetahui identitas pelaku pembacokan terhadap Sekretaris Dusun Tanah Goyang melalui pendekatan kekeluargaan dan komunikasi secara hati ke hati dengan pihak keluarga pelaku.
Peristiwa ini menjadi gambaran betapa rentannya situasi keamanan sosial ketika konflik antarwarga dipicu oleh aksi kekerasan yang berujung pada balas dendam. Di tengah kondisi penuh ancaman dan keterbatasan, upaya menjaga stabilitas keamanan tetap dilakukan dengan pendekatan persuasif demi mencegah jatuhnya korban yang lebih besar.














