Nusaelaknews.com | Piru, Maluku – Polemik aktivitas tambang Cinabar di Kabupaten Seram Bagian Barat terus menjadi sorotan. Isu penggunaan bahan berbahaya seperti merkuri dan ketidakjelasan status hukum penambangan membuat publik khawatir akan dampak lingkungan maupun sosial yang ditimbulkan.
Di tengah polemik tersebut, pernyataan Anggota DPRD Provinsi Maluku, Zain Saiful Latukaisupy, yang meminta masyarakat penambang menghentikan aktivitas ilegal mendapat dukungan dari tokoh pemuda Seram Bagian Barat (SBB), Mozes Rutumalessy.
Menurut Mozes, langkah yang ditempuh Latukaisupy sudah tepat karena berpihak pada keselamatan masyarakat dan lingkungan.
“Saya mendukung penuh langkah Pak Saiful. Beliau turun langsung ke dusun-dusun untuk menyampaikan bahaya merkuri dan tambang ilegal. Itu sikap nyata seorang wakil rakyat yang peduli, bukan hanya bicara di kantor,” ujarnya, Selasa (9/9/2025).
Mozes menegaskan, penambangan ilegal tidak hanya merusak alam, tetapi juga membuat masyarakat kecil tidak mendapatkan kepastian hukum. Sementara keuntungan terbesar justru dinikmati para pembeli besar.
“Kalau tambang dibiarkan ilegal, masyarakat hanya dapat kulit dan tulang. Sedangkan yang kenyang itu para tengkulak besar. Karena itu harus diarahkan agar legal,” tegasnya.
Ia juga menepis anggapan bahwa sikap Latukaisupy bisa memicu konflik. Menurutnya, niat dari anggota DPRD itu justru untuk mencegah perpecahan dengan cara menertibkan tambang.
“Kalau legal, semuanya jelas: ada PAD untuk kabupaten, provinsi, dan negara. Masyarakat pun hidup dengan nyaman dan memiliki kepastian hukum. Jadi jangan dibawa ke arah perpecahan. Ini justru demi kebaikan bersama,” jelasnya.
Lebih jauh, Mozes menambahkan bahwa penataan tambang secara legal juga berpotensi membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal. Dengan begitu, hasil bumi dapat dikelola secara lebih profesional, aman, dan berkelanjutan.
“Kalau ada tata kelola yang baik, perusahaan resmi pasti membutuhkan tenaga kerja. Itu artinya ada kesempatan kerja bagi anak-anak muda SBB. Jangan sampai kita jadi penonton di tanah sendiri,” tegas Mozes.
Ia pun menyerukan kepada seluruh masyarakat SBB untuk tidak terjebak dalam perang opini di media sosial.
“Mari kita dukung kebijakan yang menata tambang dengan cara yang benar. Yang penting, masyarakat hidup sejahtera, tanah adat terlindungi, dan keharmonisan sosial tetap terjaga,” pungkasnya. (red)
















