Nusaelaknews.com | SBB, Maluku – Isu dugaan praktik dinasti kekuasaan mencuat di Desa Lokki, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Provinsi Maluku. Sejumlah warga menilai ada upaya penguasaan sistem pemerintahan desa oleh dua tokoh yang kini memegang posisi strategis.
Dua figur yang menjadi sorotan adalah Salmon F. Purimahua yang menjabat sebagai penjabat kepala desa, serta Risat Purimahua yang saat ini menjabat sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Lokki.
Sejumlah warga menduga, penunjukan keduanya merupakan bagian dari upaya membangun kekuatan politik dalam lingkup pemerintahan desa. Dugaan ini berkembang seiring dengan riwayat keterlibatan keduanya dalam struktur pemerintahan sebelumnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Salmon F. Purimahua sebelumnya pernah diusulkan sebagai penjabat kepala desa pada masa kepemimpinan penjabat Bupati Seram Bagian Barat saat itu. Dalam masa tugasnya, Salmon disebut sempat mengusulkan sejumlah nama untuk mengisi posisi BPD.
Dalam proses tersebut, nama Risat Purimahua turut diusulkan dan kemudian terpilih sebagai Ketua BPD. Meski sempat terjadi dinamika dan perdebatan di tingkat desa, struktur tersebut akhirnya tetap berjalan sesuai keputusan yang ditetapkan.
Namun, masa jabatan Salmon saat itu tidak berlangsung lama. Ia diberhentikan sebelum masa tugasnya berakhir dan digantikan oleh pejabat lain. Meski demikian, upaya untuk kembali menduduki posisi tersebut disebut tidak berhenti.
Pada masa kepemimpinan Bupati definitif saat ini, Risat Purimahua kembali mengusulkan nama Salmon F. Purimahua sebagai penjabat kepala desa Lokki. Usulan tersebut diterima, dan Salmon kembali ditunjuk untuk mengisi jabatan tersebut.
Keputusan ini menimbulkan beragam reaksi di tengah masyarakat. Sebagian warga mengaku terkejut dan mempertanyakan dasar pertimbangan dalam penunjukan tersebut.
“Saya kaget dengan keputusan yang diambil oleh bupati,” ujar salah satu warga Desa Lokki yang enggan disebutkan namanya, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (17/4/2026).
Warga tersebut juga menyampaikan sejumlah penilaian pribadi terhadap kedua tokoh tersebut. Ia menuding adanya perilaku yang dinilai tidak mencerminkan kepemimpinan yang baik, termasuk dugaan tindakan yang dianggap kontroversial di tengah masyarakat.
Selain itu, sumber yang sama juga menyinggung dugaan penyalahgunaan wewenang yang pernah terjadi di masa lalu, termasuk terkait pengelolaan bantuan dan sikap pribadi yang dinilai tidak pantas. Namun demikian, tudingan tersebut belum terkonfirmasi secara resmi dari pihak terkait.
Di akhir keterangannya, warga tersebut menyampaikan kekhawatiran terhadap masa depan Desa Lokki. “Saya khawatir kondisi ini akan membawa desa ke arah yang tidak baik,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pemerintah daerah maupun dari kedua pihak yang disebutkan terkait berbagai tudingan dan kekhawatiran yang disampaikan warga. (red)
















