JAYAPURA, Nusaelaknews.com – Walikota Jayapura, Abisai Rollo, secara resmi membuka Musyawarah Daerah (Musda) VI Dewan Kesenian Tanah Papua Wilayah Adat Tabi Kota Jayapura, Selasa (27/10/2026). Musda ini menjadi momentum penting untuk memilih ketua baru sekaligus mengevaluasi dan merumuskan arah pengembangan organisasi kesenian di Kota Jayapura.
Pada kesmepatan ini Abisai Rollo mengatakan, kepemimpinan Dewan Kesenian Kota Jayapura sebelumnya dijalankan oleh Benhur Tomi Mano selama dua periode. Karena itu, pergantian kepemimpinan melalui Musda VI diharapkan melahirkan figur yang mampu meneruskan program positif sekaligus membawa organisasi menjadi lebih aktif dan produktif.
Abisai menegaskan, Dewan Kesenian memiliki tanggung jawab penting dalam mengarahkan generasi muda agar terlibat dalam kegiatan yang membangun. Menurutnya, seni dan budaya dapat menjadi wadah untuk menyalurkan bakat, mengembangkan kreativitas, serta mendorong anak-anak muda menjauhi pengaruh negatif, seperti ganja, narkoba, dan minuman keras.
“Saya berharap ketua Dewan Kesenian yang terpilih nantinya mampu merangkul seluruh generasi muda, terutama anak-anak Port Numbay, untuk menjadi bagian dari pengembangan dan pelestarian seni budaya di Kota Jayapura,” ujar Abisai. Ia juga meminta agar kepemimpinan baru memberikan ruang yang luas bagi komunitas seni untuk berkarya dan berkontribusi bagi pembangunan daerah.

Wali Kota berharap proses pemilihan ketua berlangsung demokratis, tertib, dan sesuai mekanisme organisasi. Ia menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada peserta Musda untuk menentukan figur yang dinilai memiliki kemampuan, komitmen, dan tanggung jawab dalam memimpin Dewan Kesenian Kota Jayapura.
Sementara itu, Ketua Panitia Musda VI, Matias Benoni Mano, menyebut pelaksanaan Musda merupakan momentum untuk mengaktifkan kembali mekanisme organisasi secara reguler setelah mengalami kevakuman cukup lama. Menurutnya, panitia telah mempersiapkan kebutuhan teknis, materi persidangan, dan penganggaran agar kegiatan dapat terlaksana sesuai ketentuan organisasi.
Matias mengatakan seluruh agenda Musda diarahkan untuk memperkuat landasan organisasi, mulai dari pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), penataan kepengurusan, hingga penyusunan program kerja. Ia berharap keputusan yang dihasilkan tidak berhenti pada forum musyawarah, tetapi menjadi dasar pelaksanaan kegiatan Dewan Kesenian dalam lima tahun mendatang.
Salah satu usulan yang dibahas melalui komisi persidangan adalah penyederhanaan nama organisasi menjadi Dewan Kesenian Port Numbay. Usulan tersebut akan dikaji dalam pembahasan AD/ART sebelum ditetapkan melalui mekanisme Musda. Selain itu, peserta juga membahas penataan struktur kepengurusan agar lebih ramping, efektif, dan memiliki pembagian tugas yang jelas.
Agenda lainnya adalah menyusun program kerja periode 2026–2031 yang terperinci, terukur, dan realistis. Program tersebut diharapkan mencakup pengembangan berbagai cabang kesenian, pembinaan sanggar dan komunitas, peningkatan ruang partisipasi seniman, serta pelestarian budaya lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Matias menegaskan bahwa ketua terpilih tidak cukup hanya memiliki pengetahuan dan kecintaan terhadap seni budaya, tetapi juga harus mempunyai kemampuan mengelola organisasi.
“Siapa pun yang terpilih menjadi Ketua Dewan Kesenian bukan hanya harus memahami seni dan budaya, tetapi juga harus memahami bagaimana mengelola sebuah organisasi,” tegasnya.
Menurut Matias, Dalam agenda pemilihan, peserta Musda akan menentukan ketua baru, sementara penyusunan struktur kepengurusan selanjutnya dilakukan dengan bantuan badan formatur.
Karena itu, Musda diharapkan menghasilkan pemimpin yang mampu menerjemahkan keputusan bersama menjadi program nyata dan membangun kerja sama dengan pemerintah daerah, komunitas seni, serta berbagai pemangku kepentingan.
“Untuk peserta berasal dari utusan 25 sanggar seni yang diundang secara resmi, pengurus Dewan Kesenian Provinsi Papua, pengurus Dewan Kesenian Kota Jayapura periode 2020–2025, serta perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Dinas Pariwisata Kota Jayapura. Tokoh masyarakat, akademisi, dan pemerhati seni budaya juga turut dilibatkan,” jelasnya.
Melalui Musda VI ini, Dewan Kesenian Kota Jayapura diharapkan memiliki kepemimpinan dan tata kelola yang lebih kuat, sekaligus mampu memperluas ruang berkarya bagi para seniman. Hasil musyawarah tersebut diharapkan menjadi pijakan bagi pengembangan kesenian dan pelestarian identitas budaya Port Numbay agar terus diwariskan kepada generasi berikutnya. (Ing)
















