BeritaKota JayapuraProvinsi Papua

Dua Periode Memimpin, BTM Pilih Tak Maju Lagi demi Regenerasi Dewan Kesenian Kota Jayapura

3
×

Dua Periode Memimpin, BTM Pilih Tak Maju Lagi demi Regenerasi Dewan Kesenian Kota Jayapura

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAYAPURA, Nusaelaknews.com – Benhur Tomi Mano (BTM) menegaskan tidak akan kembali mencalonkan diri sebagai Ketua Dewan Kesenian Tanah Papua Wilayah Adat Tabi Kota Jayapura setelah menyelesaikan dua periode kepemimpinan 2020–2025. Pernyataan itu disampaikan dalam sambutannya pada pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) VI Dewan Kesenian Kota Jayapura, Selasa (27/10/2026).

BTM menilai Musda VI harus menjadi momentum regenerasi kepemimpinan sekaligus memperkuat organisasi, bukan sekadar arena perebutan jabatan. Ia meminta seluruh peserta mengedepankan persatuan dan memastikan keberlanjutan kehidupan seni budaya di Kota Jayapura.

“Saya berharap dalam Musda ini jangan sampai hal yang paling menonjol justru perdebatan untuk memperebutkan kursi ketua. Sebab, kalau itu yang terjadi, kita harus menambah satu cabang kesenian baru, yaitu seni mempertahankan jabatan,” tegasnya.

Selama dua periode memimpin, BTM mengaku memperoleh banyak pengalaman, kebersamaan, dan pelajaran dalam mengelola organisasi kesenian. Namun, ia juga mengakui masih terdapat harapan seniman yang belum terwujud, program yang belum berjalan maksimal, serta komunitas seni yang belum sepenuhnya terjangkau oleh Dewan Kesenian.

“Saya tidak akan mencalonkan diri kembali sebagai Ketua Dewan Kesenian Kota Jayapura. Saya telah diberikan kesempatan untuk memimpin selama dua periode, dan menurut saya sekarang waktunya memberikan kesempatan kepada saudara-saudara yang lain,” kata BTM. Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan bentuk komitmen terhadap regenerasi, bukan berarti meninggalkan perjuangan memajukan seni dan budaya.

Menurut BTM, pergantian kepemimpinan perlu membuka ruang bagi munculnya gagasan baru dan pendekatan yang lebih segar dalam pengembangan organisasi. Ia juga mengingatkan bahwa Dewan Kesenian bukan milik pribadi atau kelompok tertentu, melainkan rumah bersama bagi seluruh seniman dan budayawan di Kota Jayapura.

BTM turut menyoroti pentingnya menjaga identitas budaya Port Numbay di tengah perkembangan Kota Jayapura yang semakin modern. Menurutnya, pembangunan tidak boleh hanya berfokus pada infrastruktur fisik seperti jalan, jembatan, dan gedung, tetapi juga harus disertai upaya melestarikan sejarah, bahasa, tarian, musik tradisional, dan nilai-nilai budaya masyarakat setempat.

“Kota Jayapura adalah rumah bersama bagi berbagai suku, agama, dan budaya. Keberagaman itu merupakan kekayaan kita. Namun, kita memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa kebudayaan asli Port Numbay tetap hidup, dihormati, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ungkapnya.

Ia mengapresiasi masyarakat Kampung Kayu Batu yang berupaya memperkenalkan lagu-lagu daerah serta mempertahankan penggunaan aksesori tradisional kepada anak-anak. BTM berharap langkah serupa dapat dikembangkan di kampung-kampung lain sehingga generasi muda semakin mengenal akar budaya dan identitas daerahnya.

Selain pelestarian budaya, BTM meminta kepengurusan berikutnya memastikan Dewan Kesenian tidak hanya aktif ketika berlangsung festival, perlombaan, atau kegiatan pentas. Organisasi tersebut harus hadir secara berkelanjutan di tengah masyarakat dan memberikan perhatian kepada komunitas seni yang selama ini belum terjangkau secara optimal.

Ia menitipkan tiga agenda utama bagi pengurus baru. Pertama, melakukan pendataan dan pemetaan seniman di Kota Jayapura berdasarkan lokasi, bidang kesenian, potensi, serta persoalan yang dihadapi. Data tersebut diharapkan menjadi dasar penyusunan program yang lebih terarah dan sesuai kebutuhan para pelaku seni.

Kedua, membangun forum komunikasi seniman yang terbuka dan aktif dengan melibatkan berbagai bidang, mulai dari seni tradisional dan modern, seni lukis, musik, tari, sastra, teater, hingga komunitas kreatif. Forum ini diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan, penyampaian aspirasi, serta penguatan kolaborasi antarkomunitas.

Ketiga, membuka ruang kesenian di kampung-kampung, sekolah, dan lingkungan generasi muda. BTM menilai kegiatan seni tidak boleh hanya terpusat di gedung pertunjukan atau berlangsung ketika ada agenda besar pemerintah, tetapi perlu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat agar anak-anak muda memiliki kesempatan untuk belajar dan mengembangkan kreativitas. (Ing)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *