Nusaelaknews.com | SBB, Maluku – Sebuah artikel yang ditulis oleh Martin Khisna, Sekretaris Perkumpulan Laskar Ampera Arief Rachman Hakim Angkatan Enam Enam.
September selalu memiliki tempat tersendiri dalam ingatan perjalanan bangsa Indonesia. Berbagai peristiwa yang terjadi pada bulan ini kemudian dikenang dalam ruang publik melalui istilah September Hitam, terutama untuk mengingat kembali persoalan hak asasi manusia dan berbagai peristiwa kekerasan yang meninggalkan pertanyaan serta pekerjaan rumah bagi bangsa.
Bagi saya, mengingat sejarah bukan berarti membuka kembali luka untuk mempertentangkan satu kelompok dengan kelompok lainnya. Sejarah justru perlu dihadirkan agar generasi hari ini memahami bagaimana sebuah persoalan dapat berkembang ketika perbedaan tidak lagi diselesaikan melalui dialog dan ketika masyarakat kehilangan ruang untuk saling mendengar.
Sebagai bagian dari generasi yang memiliki perhatian terhadap perjalanan sejarah bangsa, saya memandang bahwa setiap peristiwa masa lalu perlu ditempatkan secara proporsional. Kita perlu menghormati korban, mendengarkan suara keluarga korban, dan memberikan ruang bagi pembahasan mengenai hak asasi manusia. Pada saat yang sama, pembahasan sejarah harus dilakukan dengan tanggung jawab, berdasarkan fakta, dan tidak digunakan untuk membangun kebencian terhadap kelompok tertentu.
Tantangan tersebut semakin besar karena cara masyarakat mengingat sejarah telah berubah. Dahulu, perdebatan mengenai suatu peristiwa berlangsung melalui buku, ruang kelas, forum diskusi, atau media massa. Sekarang, satu potongan video, foto lama, atau pernyataan yang dilepaskan dari konteks dapat beredar luas dalam hitungan menit.
Karena itu, September Hitam juga perlu menjadi momentum untuk meningkatkan kedewasaan kita dalam menerima dan menyampaikan informasi mengenai sejarah. Tidak semua informasi yang beredar di media sosial dapat diperlakukan sebagai fakta. Informasi mengenai peristiwa sejarah perlu diperiksa sumbernya, konteks waktunya, serta dibandingkan dengan sumber lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kita juga perlu membedakan antara kritik, kesaksian, dan provokasi. Kritik terhadap negara atau kebijakan merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Kesaksian korban dan keluarga korban merupakan bagian penting dari upaya menjaga ingatan sejarah. Namun, provokasi yang mengubah perbedaan pandangan menjadi kebencian dan kekerasan justru akan menjauhkan kita dari tujuan utama penghormatan terhadap kemanusiaan.
Jakarta sebagai ruang bertemunya berbagai kelompok masyarakat harus mampu menjadi tempat di mana perbedaan tersebut dapat dibicarakan. Kampus, organisasi masyarakat, komunitas pemuda, media, dan ruang digital dapat menjadi tempat untuk mempertemukan berbagai perspektif mengenai sejarah dan HAM secara terbuka.
Yang kita perlukan bukan melupakan sejarah, tetapi belajar dari sejarah.
Menghormati korban tidak harus berarti mewariskan kebencian. Membicarakan pelanggaran HAM tidak harus menghasilkan permusuhan. Dan berbeda pandangan mengenai suatu peristiwa sejarah tidak harus membuat kita saling meniadakan.
September Hitam seharusnya menjadi kesempatan untuk mengingat, belajar, dan memperkuat komitmen agar kekerasan tidak kembali menjadi cara menyelesaikan perbedaan.
Generasi yang lebih muda berhak mengetahui sejarah secara utuh. Mereka juga berhak memperoleh ruang untuk bertanya, berdiskusi, dan membentuk pandangannya berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, menjaga ingatan sejarah bukan hanya tentang bagaimana kita mengingat masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana kita memastikan kesalahan yang pernah terjadi tidak berulang pada masa depan.
Mari menjadikan September sebagai bulan untuk mengingat dengan jernih, berdialog dengan terbuka, dan menjaga kemanusiaan tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling bermusuhan. (Mrg)
















