BeritaKota JayapuraProvinsi Papua

Ada 30 Kisah Dalam Peluncuran Buku Cerita Rakyat Port Numbay Jilid II Pemkot Jayapura

170
×

Ada 30 Kisah Dalam Peluncuran Buku Cerita Rakyat Port Numbay Jilid II Pemkot Jayapura

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Nusaelaknews.com | Jayapura, Papua – Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) secara resmi meluncurkan Buku Cerita Rakyat Port Numbay Jilid II.

Peluncuran buku yang berisi 30 cerita rakyat ini digelar di Suni Hotel Abepura, Jayapura, pada Selasa, 11 November 2025, dan dihadiri perwakilan Balai Bahasa Provinsi Papua, Badan Pelestarian Budaya Provinsi Papua, Kepala Dinas Pendidikan Kota Jayapura beserta jajaran, para narasumber penutur cerita rakyat, serta guru-guru dari perwakilan sekolah di semua jenjang pendidikan.

Dalam sambutannya, Asisten I Setda Kota Jayapura, Evert Merauje, menegaskan pentingnya pelestarian budaya Port Numbay.

Dirinya menyebut masyarakat Port Numbay memiliki sejarah, legenda, dan nilai moral kehidupan yang luhur yang diwariskan melalui tutur lisan. Namun, di era modern, tutur lisan berisiko memudar jika tidak didokumentasikan.

“Karena itu, penulisan dan penerbitan Buku Cerita Rakyat Port Numbay adalah langkah strategis dan visioner. Upaya ini bukan hanya kerja dokumentasi, tetapi juga kerja peradaban,” ujar Merauje.

Buku ini, lanjutnya, menjadi bukti komitmen Pemkot Jayapura untuk menjaga identitas Port Numbay.

“Buku ini menjadi bukti bahwa Port Numbay tidak kehilangan identitas. Justru, kita meneguhkan jati diri melalui pelestarian budaya,” tegasnya.

Evert Merauje menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh tim penyusun, penulis, peneliti, dan tokoh adat Port Numbay yang telah berkontribusi. Kepada para guru, sekolah, dan komunitas, ia berpesan agar buku ini tidak hanya disimpan.

“Gunakan, bacakan, ajarkan, hidupkan. Jadikan ia sumber pembelajaran dan sumber kebanggaan bagi generasi muda kita,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Jayapura, Grace Linda Yoku, menjelaskan bahwa Jilid I buku ini telah berisi 19 cerita, dan Jilid II yang baru diluncurkan ini memuat 30 cerita baru.

Dikatakan, tujuan utamanya adalah agar cerita rakyat ini tidak punah dan dapat diwariskan kepada generasi pemilik bahasa itu sendiri, sekaligus dapat dijadikan bahan ajar muatan lokal di sekolah.

“Proses penulisannya hampir tiga bulan, dengan narasumber langsung dari kampung-kampung pemilik cerita, seperti Mama Emma Tjoe, Mama Adri Membri, Mama Penina Injama Itaar, Bapak Albert Merauje, Mama Anace Samai, dan Bapak Pilo Modouw,” jelas Yoku.

Menurut Linda Yoku, buku ini akan didistribusikan ke sekolah-sekolah untuk muatan lokal, dan juga ke kampung-kampung pemilik cerita, agar dapat ditaruh di perpustakaan dan menjadi bahan ajar bagi sekolah-sekolah kampung.

“Harapan kami, kerja-kerja ini akan nyata di tengah masyarakat dengan adanya buku ini. Banyak anak memahami atau dapat menyebutkan bahasanya dengan baik dan benar, khususnya untuk pemilik bahasa itu sendiri,” pungkas Grace. (ing)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *