Nusaelaknews.com | Jayapura, Papua – Wakil Walikota Jayapura, Rustan Saru, mengumumkan bahwa Pemerintah Kota saat ini sedang memfinalisasi rencana penerapan kebijakan jam malam di tengah maraknya laporan begal dan gangguan Kamtibmas di media sosial.
Kebijakan ini diambil setelah Pemkot berkoordinasi dengan TNI dan Polri, serta mengintensifkan patroli malam oleh Tim Gabungan Terpadu.
“Ini menjadi salah satu pusat perhatian pemerintah daerah Jayapura untuk mengantisipasi itu,” kata Rustan Saru.
Wakil Walikota mengungkap, patroli yang dilakukan hingga dini hari mengungkap akar masalah yang harus segera ditangani, yaitu kebiasaan buruk anak sekolah.
“Dari fakta lapangan yang kami temui, ketika jam 10 ke atas, kami patroli sampai jam 12, jam 1 malam, jam 2 subuh pun, masih ada anak-anak sekolah keluyuran,” jelasnya.
Rustan Saru menekankan, kalau siswa-siswa ini seharusnya berada di rumah untuk beristirahat atau belajar, bukan berkeliaran di jalanan.
Selain keluyuran, temuan lain yang menjadi perhatian serius adalah konsumsi minuman beralkohol. Menurut laporan Komisi Pertemuan Intelijen, rata-rata kejadian kriminal di Jayapura dipicu oleh mabuk.
“Pengawasan kaitan dengan minum beralkohol ini juga salah satu dampak penyebab terjadinya kriminal. Ada juga anak sekolah yang kami tangkap itu mabuk,” ujarnya prihatin.
Untuk mengatasi dua persoalan utama ini, yaitu risiko menjadi korban begal dan potensi menjadi pelaku kriminal, Pemkot Jayapura melihat jam malam sebagai solusi paling efektif.
“Satu solusinya adalah memberlakukan jam malam di kota. Waktunya lagi dikaji, kita minta masukan dari semua pihak,” imbuhnya.
Ia menggarisbawahi, pada hari-hari sekolah, siswa harus kembali ke rumah paling lambat pukul 10 malam. Kebijakan ini akan lebih longgar pada malam Minggu atau malam Sabtu.
Rustan Saru juga menambahkan, jika siswa harus keluar untuk kegiatan malam seperti kelompok belajar, harus ada pemberitahuan resmi.
“Kami tidak ingin kalau kita biarkan, baru pemerintah tidak ambil tanggung jawab untuk mengatasi warganya agar selamat dari bahaya ini,” tegasnya, seraya mengajak seluruh pihak, mulai dari orang tua, komite, guru, dan kepala sekolah untuk berkolaborasi menyukseskan kebijakan ini. (in9)
















