Nusaelaknews.com | Jayapura – Perubahan iklim saat ini membutuhkan pengendalian emisi karbon sebagai upaya menjaga kualitas udara, dan mencegah dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan.
Menyikapi hal ini anggota komite IV Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD- RI) perwakilan Provinisi Papua, Hanok Puraro menggelar Climate Action for Net Zero Emission in Papua Province, yang merupakan kegiatan bersifat dialog yang membahas tentang peran Hutan yang ada di Papua untuk perubahan iklim.
Kegiatan yang juga untuk mengajak pemerintah daerah untuk berperan dalam menjaga hutan yang memilik peran penting sebagai penyerap karbon alami tersebut, turut dihadiri Wakil Walikota Jayapura, Rustan Saru, dan berlangsung di salah satu hotel di Jayapura Selatan, Kamis (31/7/2025).
Pada kesmepatan ini Hanok Puraro mengatakan, kewenagan mengelola huta oleh pemerintah daerah, baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota dibatasi oleh regulasi yang mengatru pengelolaan hutan secara keseluruhan berada di Pemerintah Pusat.

“Papua memiliki hutan yang sangat luas, seluruhnya memiliki luas 41 juta hektar. Namun di papua sekarang sudah menjadi 6 Provinsi, maka hutan untuk Provinsi induk Papua adalah sebesar 33 juta hektar, atau 37 persen lebih tinggi dari Parovinsi lain,” ujar Hanok.
Dirinya menyebut, hutan di Papua dapat menghasilkan devisa untuk pembangunan di Tanah Papua, dengan penghasilan mencapai 6,5 Triliun dari 33 juta hektar lahan hutan yang ada.
“Dan dana sebesar itu sedang menganggur di Pemerintah Pusat. Karena tidak adanya tindakan konkrit dari pemerintah daerah,” tandasnya.
Dikatakan, satu-satunya Provinsi di tanah Papua yang memperoleh hasil dari hutannya, adalah Provinsi Papua Barat. Sehingga kegiatan Climate Action for Net Zero Emission in Papua Province ini digelar.
Melalui kegiatan ini lanjut Hanok, pihkanya bisa menyusun draf langkah-langkah konkrit, langkah-langkah pencegahan atau metigasi sehingga dari sini akan lahir sebuah proposal yang akan ditandatangani oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota dan Kabupaten.
“Karena siapa yang punya hutan paling luas, dia akan mendapat oksigen yang dikonfersikan ke uang akan lebih besar. Tergantung luas hutannya,” pungkasnya. (elo)
















