Nusaelaknews.com | Piru, Maluku – Dugaan tindak kejahatan berupa pemerasan yang dilakukan oleh seseorang yang mengklaim memiliki kedekatan dengan Bupati Seram Bagian Barat (SBB), Asri Arman, kembali mencuat dan menjadi sorotan.
Praktik ini dikhawatirkan dapat merusak reputasi kepala daerah di mata masyarakat jika tidak segera disikapi oleh Pemerintah Daerah Kabupaten SBB.
Menurut keterangan salah seorang warga Dusun Laala, Desa Lokki, Kecamatan Huamual, yang minta namanya dirahasiakan kepada media ini mengatakan, seorang pria bernama Fadli Bufakar baru-baru ini mendatangi dusun mereka.
“Saya minta agar nama saya jangan dipublikasikan,” pinta sumber tersebut pada Kamis (30/10/2025). Ia melanjutkan, beberapa hari lalu Fadli Bufakar datang dan sempat menanyakan mengenai perusahaan yang sedang beroperasi di Sungai Laala.
Sumber tersebut mengaku tidak mengetahui banyak tentang perusahaan itu karena hanya masyarakat biasa yang beraktivitas di kebun.
“Saya sampaikan buat Fadli kalau terkait perusahaan, saya tidak tahu itu, karena saya cuma masyarakat biasa yang setiap hari beraktifitas di kebun,” ujar sumber menirukan jawabannya kepada Fadli.
Namun, Fadli dikabarkan terus mendesak dengan mengklaim kedekatannya dengan pimpinan daerah. Menurut sumber, Fadli seakan menekankannya dengan meminta sumber tidak usah takut, karena Fadli orang dekat Bupati.
“Dia bilang tidak usah takut, saya ini kan orang dekat bupati, jadi apabila saya datang untuk menayangkan beberapa hal kepada pihak perusahaan, pasti mereka takut, karena mereka juga sudah tau, kalau saya ini adalah orang dekat pak Asri Arman,” beber sumber tersebut.
Setelah warga tersebut terus menghindar, Fadli Bufakar pergi dengan wajah marah. Sumber juga sempat mendengar Fadli menelepon seseorang dan mengatakan, “bantu saya dulu dengan sedikit informasi, karena saat ini saya lagi kere.”
Beberapa hari kemudian, sumber mendengar kabar bahwa Fadli telah menulis berita mengenai perusahaan yang beroperasi di kampung mereka.
Keterangan senada datang dari tempat berbeda dan di hari yang sama, dari salah seorang teman dekat Fadli yang juga tidak mau disebutkan namanya.
Melalui sambungan telepon, teman dekat tersebut menceritakan bahwa Fadli sempat mengeluh karena tidak mendapatkan apa-apa dari pengawas perusahaan di Laala.
“Fadli menceritakan kepada saya kalau dua hari kemarin Fadli datang ke perusahaan di Laala, tetapi pengawasnya pelit sekali, dan saya tidak dapat apa-apa dari pengawas,” ungkap sumber tersebut.
Fadli disebut kemudian berhasil mendapatkan nomor telepon bos perusahaan dan langsung menuju Ambon, untuk bertemu dengan alasan ingin mengonfirmasi legalitas perusahaan.
“Bosnya pelit saya juga sudah tekan lebih keras, tetapi orangnya lebih pelit lagi, masa saya jauh-jauh dari Seram ke Ambon, saya cuman dapat Rp500.000,” ujar sumber mengutip keluhan Fadli.
Setelah merasa tidak puas, Fadli mengaku telah menulis berita tentang perusahaan tersebut. Namun, saat ini ia sedang mencoba membangun komunikasi dengan Ketua Komisi III DPRD SBB agar Komisi tersebut bisa turun langsung meninjau Sungai Laala.
“Informasi itu saya sudah sampaikan kepada pihak perusahaan, tujuan saya agar supaya, pihak perusahaan takut dengan ancaman saya, apabila Komisi III turun langsung ke lokasi perusahaan, saya yakin perusahaan akan takut kepada saya,” cerita sumber, membeberkan apa yang disampaikan Fadli kepadanya.
Bahkan, menurut sumber tersebut, Fadli juga menceritakan bahwa Ketua Komisi III tidak mengetahui bahwa tujuannya hanyalah untuk menakut-nakuti pihak perusahaan.
“Ketua Komisi III tidak tahu tujuan saya, itu hanyalah menakut-nakuti pihak perusahaan agar supaya apa yang saya minta dari perusahaan mereka akan berikan,” tutup sumber.
Hingga berita ini diterbitkan, Fadli Bufakar dan pihak perusahaan yang coba dikonfirmasi tidak dapat dihubungi. (red)
















