BeritaKabupaten SBBProvinsi Maluku

Fitnah, Provokasi, dan Drama Medsos: Kepsek SMAN 3 SBB Bongkar Ulah Oknum Guru

607
×

Fitnah, Provokasi, dan Drama Medsos: Kepsek SMAN 3 SBB Bongkar Ulah Oknum Guru

Sebarkan artikel ini
Background Ilustrasi
Example 468x60

Nusaelaknews.com | Piru, Maluku – Polemik di SMA Negeri 3 Seram Bagian Barat (SMAN 3 SBB) terus bergulir. Setelah sebelumnya mencuat kabar tentang oknum guru Nelson Taniwel (NT) yang menolak mutasi dan diduga memprovokasi siswa berdemo, kini kasus itu memasuki babak baru.

Kepala Sekolah SMAN 3 SBB, Wilhelmina Tomatala, akhirnya buka suara menanggapi tudingan liar yang menyeret namanya dalam dugaan korupsi dana BOS dan aksi demonstrasi siswa. Dengan tegas ia menyebut tuduhan itu tidak berdasar dan hanya akal-akalan untuk menjatuhkan kepemimpinan sekolah.

Tomatala menegaskan, mekanisme pengelolaan dana BOS di SMAN 3 sudah sesuai aturan. Bendahara, operator RKAS, dan tim penyusun laporan selalu terlibat aktif dalam setiap tahapan, sementara dirinya hanya melakukan pengecekan akhir agar dokumen tidak bermasalah.

“Laporan itu tugas bendahara, dibantu operator RKAS dan tim penyusun. Semua berkas kemudian saya periksa supaya jangan ada yang kurang. Jadi apa hubungannya dengan kalimat seolah-olah saya kelola sendiri?” tegasnya di Piru, Minggu (21/9/2025).

Dalam pertemuan dengan orang tua siswa kelas XII Persiapan TKA kemarin, kata Tomatala, sejumlah orang tua juga menolak keras adanya provokasi kepada siswa untuk berdemo. “Mereka tahu kalau anak-anak tugasnya belajar, bukan ikut demo. Jadi wajar orang tua tidak setuju jika ada guru yang mengarahkan siswa untuk hal-hal seperti itu,” jelasnya.

Ia juga menepis narasi bahwa sejumlah siswa menangis histeris saat aksi demonstrasi. Menurutnya, justru oknum guru yang berperan dalam drama tersebut.

“Siswa mana yang menangis? Justru dia yang menangis di depan siswa untuk cari iba. Bahkan saat orasi di depan kantor pun dia sempat menangis. Itu kan akting. Dalam video jelas sekali siswa-siswa di belakang malah tertawa, seakan hanya ikut meramaikan aksi saja,” bebernya.

Lebih jauh, Tomatala menyinggung ulah NT yang kerap mencemarkan nama baik sekolah di media sosial. Ia mencontohkan, postingan foto sampah di halaman sekolah padahal saat itu petugas kebersihan sedang bekerja, hanya saja sempat terhenti sesaat karena hujan.

“Sudah gunakan fasilitas sekolah, tapi tidak bisa menjaga kebersihan maupun kenyamanan. Bukannya turut menjaga, malah memposting sampah untuk cari sensasi. Padahal petugas kebersihan sedang bekerja, hanya tertunda sebentar karena hujan,” ungkapnya.

Tomatala menegaskan SMAN 3 SBB justru mendapat pengakuan prestasi dari pemerintah. Tahun 2025, sekolah ini menerima dana prestasi karena masuk kriteria salah satu sekolah berprestasi di Maluku. Bahkan, dua siswa berhasil mewakili Maluku di tingkat nasional dalam kegiatan ekonomi keluarga di Jakarta.

“Itu semua karena prestasi siswa dan sekolah yang diakui. Saat ini siswa juga sedang disibukkan dengan berbagai kegiatan pengembangan minat dan bakat, baik akademik maupun non-akademik. Tapi ironisnya, guru justru sibuk memprovokasi siswa. Itu sangat disayangkan,” tegas Tomatala.

Sejumlah guru lain menegaskan, NT seharusnya bersikap legowo dengan mutasi yang diputuskan Dinas Pendidikan Provinsi Maluku. Apalagi ia sudah hampir 20 tahun bertugas di sekolah tersebut dan kerap terlibat polemik dengan kepala sekolah sebelumnya.

Kasus ini pun memicu sorotan publik karena dinilai mencoreng marwah pendidikan di Maluku. Para guru mendesak Dinas Pendidikan Provinsi Maluku segera bertindak tegas agar konflik internal tidak terus-menerus mengganggu iklim belajar di SMAN 3 SBB. (red)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *